Terry Jones, Sang Penghasut Pembakaran Al-Qur’an


sumber: vivanews.com
undefined

VIVAnews – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton berkeluh kesah. “Amat disesalkan, seorang pendeta di Gainesville, Florida, yang memimpin sebuah gereja kecil dengan jemaat tak lebih dari 50 orang, bisa membuat rencana yang luar biasa jahat dan dengki seperti ini dan lalu menarik perhatian dunia—tapi itulah dunia yang kita tinggali bersama. Itu sungguh disayangkan, tapi yang jelas aksi itu bukanlah jati diri kita semua.”

Sebagaimana luas diberitakan pada pekan-pekan belakangan ini, pendeta penghasut itu bernama Terry Jones, pemimpin gereja Dove World Outreach Center. Pada Juli 2010, dia mengumumkan akan menggelar “International Burn a Koran Day” atau “Hari Internasional Pembakaran Al Qur’an.” Waktu yang dipilihnya adalah Sabtu ini, 11 September 2010, tepat di hari peringatan sembilan tahun serangan teroris Al Qaidah ke World Trade Center, New York. Rencana itu dia post di Facebook dan dalam sekejap menyebar ke seantero dunia.

Siapa sebetulnya Terry Jones?

Jones lahir di Cape Girardeau, Missouri pada tahun 1952 atau 1953. Jadi, saat ini ia berusia 57 tahun. Ia memimpin Dove World bersama istri keduanya, Sylvia.

Untuk menyusuri siapa gerangan Jones, harian terkemuka Jerman Der Spiegel mewawancarai Andrew Schafer, seorang pengurus gereja Protestan yang bertanggung jawab mengawasi berbagai aliran kepercayaan di wilayah Cologne—di mana Jones pernah memimpin sekitar 100 jemaat.

Schafer dengan tegas menyatakan, “Terry Jones terlihat memiliki kepribadian delusional.”

Penelusuran The Times of London menemukan latar belakang Jones yang ‘menarik.’ Ditulis koran itu, “Dia (dan istri keduanya, Sylvia) meninggalkan Jerman pada tahun 2008 setelah salah satu dari tiga anak mereka… bersama dengan seorang lelaki tua di gerejanya yang terdahulu… menuduh mereka melakukan penyelewengan keuangan dan ketenagakerjaan… Gereja Jones di Florida didanai oleh TS & Company, perusahaan di bidang pengiriman furnitur yang dimiliki gereja itu, yang membeli mebel-mebel vintage dari Eropa dan menjualnya kembali di AS. Karyawan di perusahaan ini adalah para pengikut Jones, yang bekerja tanpa diberi upah dan tinggal tanpa perlu membayar di bangunan milik Jones yang lapuk dan jorok.”

Gara-gara ada kaitan dengan TS & Company, Alachua County Property Appraiser pernah menginvestigasi status pengecualian-pajak gereja itu pada Maret 2010 lalu.

Dove World adah gereja Kristen karismatik yang sangat kecil dan non-denominasional (berdiri sendiri, tidak bergabungan dengan perhimpunan gereja Kristen manapun). Jemaatnya hanya berjumlah sekitar 50 orang.

Dove World didirikan pada tahun 1985 oleh dua pendeta, Donald O. Northrup dan Richard H. Wright. Setelah Northrup meninggal di tahun 1996, kepemimpinan beralih ke istrinya, Dolores. Jones mengambil alih kepemimpinan gereja ini pada 2008. Setahun kemudian, Dolores akhirnya keluar dari Dove World karena tak sepaham dengan cara-cara Jones.

Dove World memiliki sebuah sekolah-asrama, juga berlokasi di Gainsville, yang diberi nama Dove World Outreach Academy. Menurut harian lokal Gainsville Sun, para pelajar di akademi itu dilarang berkomunikasi dengan pihak luar dan keluarga mereka, termasuk tak dibolehkan menghadiri acara pernikahan dan pemakaman keluarga. Mereka juga diwajibkan bekerja untuk menjual, mengepak, dan mengirim furnitur TS & Company. Semua tanpa gaji.

Gereja ini sudah sedari lama mengobarkan semangat anti Islam. Sudah sejak akhir 1990an, mereka memasang berbagai spanduk anti Islam dan anti LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) secara mencolok di depan gereja mereka. Di awal tahun ini, Jones menerbitkan sebuah buku yang diberi judul “Islam is of the Devil.” Isinya menggambarkan Islam sebagai agama penganjur kekerasan dan teror.

Sebelumnya, di tahun 2009, para jemaat mengirimkan anak mereka ke sekolah umum dengan t-shirt bertuliskan judul buku itu. Buntutnya, anak-anak itu dipulangkan dari sekolah dan diperintahkan mengganti pakaian.

Mereka juga amat militan menentang kaum homoseks. Pada Maret 2010, Dove World mengunggah video menentang pencalonan Craig Lowe sebagai walikota (Lowe belakangan tetap terpilih dan menjadi walikota pertama Gainesville yang terang-terangan mengaku sebagai gay). Saat kampanye mereka memasang spanduk bertuliskan “No Homo Mayor.”

Rencana sinting Jones sontak memancing kemarahan warga dunia–bukan hanya umat Islam, tapi juga agama lain, termasuk kalangan Nasrani dan Yahudi. Dan kini Jones harus memetik buah yang telah dia tanam itu.

Merasa jerih melihat gelombang antipati itu, Jones buru-buru menyatakan harapannya supaya acara sinting yang digagasnya itu tak mendorong aksi kekerasan. Dia pun mengaku menerima sejumlah ancaman pembunuhan sejak mengumumkannya. Tak cuma itu, bank yang menguncurkan kredit properti kepada Dove World senilai US$140 ribu, atau sekitar Rp1,3 miliar, kini menuntut Jones supaya langsung melunasi semua hutangnya. Belum cukup, perusahaan asuransi yang tak mau konyol langsung membatalkan asuransi gereja Dove World.

Advertisements

Film Sang Pencerah


Film Sang Pencerah – Dengan kerja keras akhirnya film Sang pencerah akan segera dapat kita lihat dalam bentuk tralier atau video singkat Sang pencerah. Hasil produksi dari hanung bramantyo ini menceritakan tentang kisah K.H. Ahmad Dahlan, tetapi dibalik itu semua film Sang Pencerah bercerita tentang perjuangan. Di dalamnya berisi tentang semangat anak muda, patriotisme anak muda dalam merepresentasikan pemikiran-pemikirannya, Adapun cerita singkat tentang kesimpulan dari Film Sang Pencerah sebagai berikut:

Sang Pencerah

Sepulang dari Mekah, Darwis muda (Ihsan Taroreh) mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bid’ah /sesat
Melalui Langgar / Surau nya Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) sehingga surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda.

Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman

Lihat Trailer Film (klik Disini)

sumber:pakarseo.com

Memahami Hitler di Balik Kasus Israel


hitlerillustrasi: library.thinkquest.org

BANYAK yang mengatakan Hitler adalah manusia keji. Saat  berkuasa, hingga nyaris berakhirnya Perang Dunia II, daratan Eropa disebut-sebut menjadi ajang pembantaian massal (holocaust) terhadap kaum Yahudi yang melenyapkan jutaan jiwa. Akan tetapi setelah PD II usai,   Israel sebagai negara yang didirikan atas inisiatif Amerika Serikat untuk menampung kaum Yahudi korban perang, justru sepertinya menjadi momok yang lebih keji dibanding Hitler itu sendiri.

Diakui atau tidak, orang Yahudi adalah “bangsa pilihan”. Mereka tak hanya terkenal karena ulet dan rajin, tapi juga jenius. Konon inilah yang membuat Hitler ketar-ketir. Ia menyadari bahwa kaum ini tidak saja dapat menghambat keinginannya mengusai dunia kala itu, tetapi juga akan mengancam dunia di masa depan. Dan boleh jadi inilah substansi alasan mengapa Hitler dengan NAZI-nya merasa perlu melakukan holocaust, jika itu benar adanya.

Jejak   Israel dalam pentas pergaulan dunia khususnya dalam upaya mewujudkan  perdamaian di Timur Tengah, memang menarik untuk dicermati. Konflik Israel-Palestina yang hingga kini belum berkesudahan adalah contoh nyata, betapa “negara fiktif” itu mampu menundukkan dunia. Ia telah membungkam Amerika Serikat, bahkan menjadikan negara Paman Obama itu impoten. Ia tak berdaya menghadapi Israel dengan “Yahudi”-nya, yang meski minoritas namun menguasai sendi-sendi kekuatan politik dan ekonomi Amerika. PBB yang diharapkan sebagai juru damai justru tak lebih dari pesuruh Amerika. Pendek kata, Israel telah menjelma menjadi negara superpower yang sesungguhnya.

Jika mencermati kasus kekejian Israel di Palestina, yang dengan seenaknya membantai anak-anak dan perempuan tak berdosa, atau menyerang secara brutal kapal yang membawa misi bantuan kemanusiaan internasional ke Jalur Gaza, mungkin kita bisa memahami seorang Adolf Hitler secara utuh. Mungkin dalam hati kita akan berkata, sesungguhnya Hitler tidak terlalu keliru, jika tidak hendak mengatakan benar.

sumber: http://luar-negeri.kompasiana.com/

%d bloggers like this: